Get paid To Promote at any Location

Monday, March 14, 2011

supir Ku


Pada suatu pagi, dihari libur, seperti biasa aku tinggal seorang diri bersama kacungku yang umurnya 1 tahun lebih muda dariku. sedang pembantuku dan tukang kebunku sedang ke Puncak, untuk merawat villa kami.
Kacungku, No, anaknya agak gendut, tingginya kurang lebih sama dengan tinggi tubuhku sendiri, kulitnya kehitam-hitaman karena sering terpanggang panas matahari. Ceriat ngeseks dengan budak bisa anda baca di ceritadewasa17tahun.info No anaknya agak pendiam, itu yang membuatku sering menggodanya.
Hari itu aku sedang terangsang berat, karena tidak ada pak Mat, tukang kebunku, yang biasanya memenuhi kebutuhan sex ku. Jadi kucurahkan perhatianku kepada si No, kacungku itu. Ternyata dia anaknya polos sekali, belum kenal apa itu sex dan entot-mengentot. Hari itu, aku merencanakan untuk menggodanya lagi. Aku pura–pura akan mandi di kamar mandi belakang, kamar mandi tamu yang agak jauh dari kamarku.
Aku hanya menggunakan handuk kulilitkan ke tubuhku seadanya, nampak jelas sekali bongkahan buah dadaku yang ukurannya 36B itu, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, rambutku yang sebahu lebih itu hanya mampu menutupi sebagian dari keindahan buah dadaku, putingnya yang kemerah-merahan itu mencuat dan mendongak ke atas, pantatku yang memang agak nungging itu bulat dan indah, pada saat lewat di depannya yang sedang membersihkan meja makan, persis di depan matanya, pura–pura handukku terlepas dan jatuh ke lantai, kontan tubuhku yang tidak terbungkus apapun itu terlihat jelas olehnya, aku melihat reaksinya yang tersipu malu dan melengoskan pandangannya. Kuteruskan ke kamar mandi sambil ketawa tertahan melihat tingkahnya.
Tidak lama di dalam kamar mandi, aku berseru memanggil si No untuk mengambilkan sabun, “No, tolong ambilin sabun yaaa…” “Iya non, sebentar…” Kudengar suaranya berlari-lari. Diketoknya pintu kamar mandi yang tidak kukunci dari dalam, kataku, “Masuk aja, No.” Dibukanya sedikit pintu itu dan dijulurkannya tangannya sambil menggenggam sabun. Kutarik tangannya ke dalam kamar mandi sambil berkata, “Tolong kau sabuni aku juga, aku tak bisa menyabuni bagian belakangku.” Setelah di dalam, No melihat tubuhku yang telanjang sekali lagi, tapi sekali ini dia tidak melengoskan pandangannya lagi, malah dia memperhatikan tubuhku yang mungil dan ranum itu dengan muka yang memerah.
“Heh. Koq malah ngeliat gitu sih,” ujarku sambil pura-pura menutupi buah dadaku yang udah lebih besar dari dulu, karena susuku sering diremas dan dirangsang oleh pak Mat, tukang kebunku. “Sini, buka bajumu agar nggak basah kena air.” Kulucuti pakaiannya tanpa menunggu jawabannya. Setelah kubuka celana dalamnya, kulihat tongkolnya masih kecil, belum tegang sama sekali. Penasaran banget aku, masa ngeliat tubuhku gini, dia belum ngaceng sih, pikirku. Biar, nanti kuhisap dan kubuat kau ketagihan hisapan mulutku, pikirku mesum. Kupasang shower dan aku mulai mandi di depan mata kacungku sendiri yang juga telanjang bulat. “Ayo, sabunin aku, jangan bengong aja gitu dong,” ujarku. Dia mulai mengusap punggungku dengan tangan gemetar, wah asik nih, dia bisa diajari juga, supaya aku tak tergantung ama si pak Mat aja, pikirku.
“Sini, depannya juga. masa punggung aja,” bentakku. “Baik nonhh….” jawabnya dengan gugup. Dia mulai mengusap-usap dadaku, susuku yang 36B itu. aku tambah terangsang dengan usapan tangannya. Aku menikmati usapannya sambil merem melek. Tidak puas, aku juga mulai menyabuninya, kataku, “Ayo, kamu juga harus disabunin, biar bersih dan harum.” Dia diam aja sambil bengong. Tanganku berhenti di tongkolnya dan mengocoknya lebih lama. Nah, mulai kelihatan kepalanya, pikirku. “Aduh non, geli non,” katanya takut–takut. “Udah, diam aja. Dikasih yang enak koq malah bawel sih. Nanti kalo udah ngerasain malah cari gue loe,” jawabku.
Setelah kusiram bersih tubuhku dan tubuhnya, aku jongkok di depannya sambil kugenggam tongkolnya yang belum terlalu ngaceng itu, masih agak lembek. Sambil melihat wajahnya, kumasukkan tongkolnya ke dalam mulutku dan kekemot pelan–pelan. Kulihat matanya melotot sambil memperhatikan tongkolnya masuk ke mulutku, dia menelan ludah. Pelan-pelan kujilati seluruh tongkolnya, mulai dari pelirnya sampai ke ujung kepala tongkolnya, dari situ kumasukkan seluruh tongkolnya ke mulutku, nggak terlalu besar, meski sudah ngaceng berat. tapi cukup keras juga tongkolnya. Pikirku, lumayanlah tongkol anak kecil, dari pada nggak ada.
Setelah beberapa lama menghisap tongkolnya, dia mulai bergetar, wah, tandanya dia mau keluar nih, pikirku. Semakin kuperkuat hisapanku, tongkolnya kukeluar masukkan di mulutku. secara tanpa disadarinya, pantatnya maju mundur seperti orang ngentot, tapi di mulutku. “Aduh non, aduh non… enak sekali noooonnhh…” teriaknya. “Croott… crooottt… crooooottth…” Banyak sekali pejuhnya keluar di dalam mulutku, langsung kusedot habis dan kutelan dengan kenikmatan luar biasa, kulihat wajahnya merah padam pada saat pejuhnya keluar, wajahnya mendongak ke atas dan oleng ke kiri ke kanan. “Enak nggak, No? Kau suka tongkolmu kuhisap kan?” tanyaku nakal. “He eh, non. Enak sekalih,” katanya masih sambil tergetar, aku maklum karena ini pasti pejuh pertamanya, orgasme pertama seperti aku dulu merasakan pada saat aku orgasme disetubuhi tukang kebunku, pak Mat.
Masih ngaceng keras nih, bisa dilanjutkan pikirku. Aku duduk dipinggiran bath tub sambil mengangkangkan kedua pahaku yang putih dan mulus sekali itu. Kubimbing tongkolnya dengan tanganku ke arah memiawku. Setelah tepat sasaran, kusuruh dia mendorong pantatnya maju mundur. “Blluuushhh….” Masuk seluruh tongkolnya yang masih keras itu ke memiawku. “Hehhh…. mmmhhh… enak sekali No. Terusin No, ent*t aku, No. ent*t anak juraganmu ini Nooo… aduh… enak sekaalii tongkolmuuuhh…” Aku yang udah terangsang berat itu tak bisa berpikir apa-apa lagi kecuali tongkol yang enak.
Aku tak berpikir lagi bahwa kuserahkan tubuhku yang mungil dan mulus ini kepada kacungku yang gendut, anak pribumi yang hitam ini. Kubiarkan tongkolnya masuk keluar di memiawku yang sempit ini, sambil menikmatinya. Tangannya meremas susuku yang sudah keras karena nafsu, kulipat kakiku menjepit pantatnya agar dorongannya semakin dalam masuk ke memiawku, tanganku memegangi tangannya agar remasannya ke susuku tambah keras. Kuhentak-hentakkan pantatnya agar goyangannya semakin hot. “Mmmmhhhh… mmmhhh…. aaahhhh…. aaahhh… ssshhhh… terussshh Nooo… terusshh…. aku mau keluar nihhh…” teriakku. “Aku juga mau keluar lagi noooonnn….” sahutnya. “Keluarin … di dalamkuuu.. Nooo… jangan cabut tongkolmu yaaahh…. eeemmmhhh, aaaaakkkhh… uaaakkkhhh… akuu.. keluuaarrrrrrrrrr…..” Aku mencapai orgasme, pertahananku ambrol, tubuhku berguncang kerass sekali, aku berteriak–teriak seperti orang kesurupan, kepalaku mendongak ke atas, ke kiri, ke kanan, tak terkontrol, enak sekali, nikmat sekaliiih.
“Crooottt… crrrooott… crooottth…. hhhaaadduuuhh nonnnn, aku juga keluarrrr, aduuuhh banyak sekali pejuhku noooonn… mmmmeeeehhhh… hhhhhhhmmmmm….” Si No juga berteriak sambil memuncratkan pejuhnya ke dalam memiawku, aku dapat merasakan semburan pejuhnya di dalamku, pejuh seorang anak perjaka, baru umur 13 tahun. “Aku mau lagi nonnnhh, enak sekali memiaw enon, lagi yahh? Aku masih pengen lagi nih, tongkolku masih pengen lagi, pengen ngerasain memiaw non, abis enak bin nikmat siiihhh, lagi yaaahh?” pintanya.
Aku tak pernah membayangkan aku disetubuhi oleh kacungku sendiri, mengingat ini membuatku terangsang kembali. tongkolnya juga masih keras bukan main, wah gila, gini caranya, gue bisa dient*t sepanjang hari nih. Si No ini ternyata kuat juga mainnya, tongkolnya dari tadi nggak pernah mengendur. Gila!!! Akhirnya kuturuti juga keinginannya untuk ngentot gue.
Sampai aku kelelahan dia tetap goyang terus. Akhirnya aku pasrah aja, seakan akan aku diperkosa olehnya.
Aku hanya bisa mengangkang di lantai kamar mandi, pahaku dibuka lebar-lebar, kedua kakiku dipegangi tangannya sambil kadang meremas-remas susuku yang gempal itu. Dia di atasku sambil tetap menyodok-nyodokkan tongkolnya yang tetap keras itu ke memiawku. Rupanya aku telah membangunkan ular yang sedang tidur, sekarang aku diperkosanya habis-habisan.
“Udah No… udah… aku udah capek nihhh….” pintaku. Tapi aku tetap diperkosanya sampai teler.
Bosan posisi itu, dia minta ganti posisi lain, sampai rasanya aku tak kuat lagi melayani nafsunya yang seperti kerbau yang sedang nafsu itu.
Setiap kali dia keluar, orgasme, dia masukkan lagi tongkolnya ke memiawku, kadang dimasukkannya tongkolnya ke mulutku, aku yang udah lemas itu dipaksanya membuka mulut, dan tongkolnya dimasukkan ke mulutku dengan kasar, kadang dengan sengaja pejuhnya ditumpahkan ke wajahku, di atas susuku, di atas memiawku, perutku, rambutku. Setiap kali dia keluar, pejuhnya banyak sekali, jadi tubuhku, wajahku, dahiku, mulutku, bibirku, mataku, pipiku berlumuran dengan pejuhnya yang kental itu. Banyak sekali dan sangat kental.
Kurang lebih 11 – 12 kali si No menggenjot memiawku, menyetubuhi tubuhku, memasukkan tongkolnya ke mulutku, memperkosaku, sampai akhirnya dia terkulai lemas di samping tubuhku yang penuh dengan pejuhnya. Aku yang lebih lemas lagi hanya bisa diam terbaring di lantai kamar mandi yang hampir penuh dengan pejuhnya. mataku meram, mulutku masih terbuka sambil pejuhnya yang mengalir keluar dari mulutku. Pahaku masih terbuka lebar, lubang memiawku rasanya terbuka lebih lebar dari biasanya.
Sejak kejadian itu, si No selalu memintaku melayaninya setiap hari. Terkadang kalo hari Sabtu atau Minggu, dia malah menyetubuhiku lebih dari 3-4 kali sehari. Untungnya aku tak pernah hamil, meskipun kebanyakan bila tubuhku sedang ‘dipakai’ oleh para pembantuku, mereka hampir selalu mengeluarkan pejuhnya di dalam. Bayangin betapa buasnya dia, pada saat aku sedang tidak ‘mood’, dia tetap memaksaku, dia bahkan pernah dan sering memperkosaku di kamarku sendiri. Tampaknya dia sudah lupa daratan, dia sudah lupa bahwa aku adalah anak majikannya. Tapi apa boleh buat, aku juga menikmatinya sih.
Dia menikmati sekali tubuhku yang tambah bahenol ini. Di usiaku yang baru 14 tahun ini, aku termasuk kategori cewek yang tubuhnya paling montok di sekolahku. Meskipun tinggiku hanya 147 cm, dan tubuhku nggak kurus dan nggak gemuk, susuku termasuk yang membusung indah dengan putingnya yang mencuat ke atas adalah yang termontok di antara teman-teman sekolahku. Wajahku yang putih cantik ini seperti anak orang Jepang, dengan mata yang agak sedikit sipit, maklum aku kan keturunan Chinese. Pinggulku udah membentuk sexy sekali, pantatku bulat indah, pinggangku kecil sekali.
Jadi tubuhku bila memakai seragam sekolah tetap kelihatan sangat sexy, seperti cewek yang sudah matang. Mungkin karena aku sudah biasa sering ditiduri dan dientot oleh para pembantu rumah tanggaku. Aku memperhatikan, bahkan guru olah ragaku di SMP juga ngaceng saat melihat tubuhku bila hanya memakai kaus olah raga dan celana pendek yang agak kelihatan buah pantatku. Terkadang aku malah sengaja tidak menggunakan BH, hanya dengan kaus singlet dan kaus olah raga saja. Pasti guru dan teman–teman cowokku dapat melihat bongkahan susuku dan putingku yang mencuat tembus, yang bila aku keringetan, akan semakin jelas terlihat.
Aku sangat menikmati apabila ada cowok, siapa aja, tergiur melihat tubuhku yang masih muda ini. Aku suka melihat cowok ngaceng karena membayangkan tubuhku ini, pasti mereka membayangkan yang tidak-tidak, yang jorok-jorok.

tante wisi


Selama 5 tahun berjalan, aku hidup bersama tante wisi, dan aku harus menikahi cici, aku sekarang bekerja sebuah perjalan wisata, kami merasa pernikahan yang baru berjalan sekitar 7 bulan ini, dan hidup kami bagiah aku dengan cici, kami tak perlu memakai kondom lagi, cici pun mulai hamil sambil kulia, dia tidak malu walaupun hamil sambil kulia, selama ini aku dan cici masih sempat datang kerumah tante wisi, selama aku kuliah di semester 6 aku sudah tidak tinggal di rumah tante wisi, sebab 3 tahun lalu tante wisi berencana ingin menikah dengan duda, dan pernikah mereka berlangsung. Selama pernikah tante sudah di karunia seorang anak 1 dan kami sangat rukun sekularga.

Hinga suatu saat ada pertemuan keluarga, yang mengharuskan kami ngumpul dirumah gadang atau rumah keluarga, di situlah kami bercerita bersama mengenang masa lalu, dimana kami sangat di beri perhatian, selam bercerita aku melihat tante wisi sangat bahagia, dengan anaknya sehinga, lupa ama kami, aku tetap berama cici, yang mangkin hari semangkin sayang. Aku pergi kebelakang rumah dan melihat pematang sawah yang menguning, aku berdiri sambil merokok, dan tante wisi menghampiri ku, nanda sayang…, suara yang mengingikat aku meneteskan air mata, eh nanda sayang kau sedih kenapa, eh tante ngak Cuma ingit tante, nanda sayang ama tante juga cici, kamu cici bahagiah bener tante lihat, eh nanda kita duduk disana yuk sambil cerita dan…, ayo ngapain tante, banyak orang di depan ananti malah kita di gebukkin, hehee… kamu masih kaya dulu sayang, kami duduk di dekat sawah dan bercerita, dalam cerita ada salah obrolan yang membuat ku sok.
Nanda semalam, tante main ama om, tapi tak sepuas dengan mu, nanda tante ada problem, apa tuh tante masalahnya, semalam kan tante eh bukan udah 2 malem tante main, tapi si om nebak di dalam dan masalahnya, kamu jangan marah ya, air mani om tante keluar dikamar mandi tante hanya mau punya tidak banyak, jadi apa masalahnya apa tante.., tante ingin punya anak dari kamu satu.., HAH.. apa, ya sayng kamu mau ya…, tante udah pesan kamar hotel buat besok, tante mau anak dari kamu ya…, iya deh tapi tante masih kaya dulu ngak…, tenang aja sayang, iya malam ini aku ngak maen ama cici deh, eh ya cici gimana, mainnya, muantep tante.. heheh.,
Keesok hari kami pun udah dikamar hotel sekitar jam 1 siang, kami melepas rindu, sambil bercerita dan bermeseraan, tanpa basah basih aku langsung nyosor duluan, dan mulai meraba tante yang masih megenakan baju kerja aku juga mengenakannya, kami berciuman seperti dulu, dan mebuka baju satu, nanda sayang kamu hari bebas, iya tante ngak perlu pake kondom, tante walau udah hampir 40 tante masi seperti dulu, sayang kamu tau hari ini tante ultah, itu makanya minta ama kamu, (dalam hati wah sama kaya dulu aku dengan cici bisa gile nih), aku mulai merapa tetenya dan merasa air asi yang begitu hangat, tante…, sekarang punya tante wangi.., iya terus jilat sayang.. enak sayang.., auuhh.. ouu..ouuhh.. gimana tante enak sayang…, enak nandaaa..aaahh air vagina pun mulai mengalir dari lubang panas tak bertuan.., ahh..aaaaahhh…aahh, sini nanda sayang tante cun.., muaacch.. tante sekarang…, kamu lebih garang sekarang tante blum bilang iya tapi anu kamu udah didalam, abais udah lama ngak kena…, terus sayang tante udah lama ngak rasa kenagan yang tante impikan…, aku masi diatas tubuh tante, kali bener2 lama ku bikin sampai aku bener lemas…, udah hampir 15 mnt lebih diatas tubuh tante… nanda teru.. terus.. aauuu… sayangg.. ouuhhmm.. ehhmmm… tante mau keluar, nanda juga tante ahh..ahhh.. crot crot ..crot ..crot hampir 5 kali tembakan air mani bersarang di vagina tante, ahh… ahh…ahh…, sayang kuuu ananda ahhh..ahh..aouuhh, ahhhh…. Sayang makasi ya, iya tasnte.
hari pun udah jam 2:30, kami terpask istirah kali bener2 perjuang yang mantap, kami bercerita seperti biasa, dan tante pun memulai membuka semuanya, nanda kkamu jangan kaget ya.., tante tau semua yang kamu lakukan sebelum nikah ama cici, gaya kamu ama cici tante ngerti kalian kasmaran. Maka dari itu tante ingin ka;ian tetap bersatu, tapi itu sudah terjadi tante seneng kok, anak mu juga kasi sayang ku, makasi ya tante.., kami segera menuju kamair mandi hotel, dan tak tahan kami main dengan posisi berdiri tangan ku memmeluk tante dari belakang, tangan kiri meremas dadanya, ah..auu.. ehhmm… terus remas nanda…, lama2 buah dadanya mangkin megeras aku merasa semangkin tegang,
lalu ku tunggikan badannya lalu kumasukan kemluanku ke vaginanya, ah..aahh… ahh.. trus masukan, iya tante aku semangkin megoyang maju mundur dan ku lihat dari kaca wastafel buah dada yang bergoya yang telah mengeras, ahh…ahh.., aduh tante enak.., iya terus nanda, vagina semangkin licin, organesme semangkin memuncak, ahh..nnandaa…ahh..ouuhhh.., aku pun mencabut dan menrebahkan tante tate di lantai dan menidurinya, ahh…terus..masukan sayang..ahh..buat aku melayang sayang, iya tante … aku megoyang maju mundur secepat mungkin dan kurasakan vagina yang semangkin memanas seperti lava gunung yang baru meletus vagina yang semangkin mengigit gigit,…ahh…ahh tante aku mau keluar aahh… ouuhh..aahh…ahhh crot…crot..aku pun menembak didalam yang kedua kalinya, ahh…ahhh..sambil tetap mengoyang tante pun mulai mencapai organesme yang kedua, nanda..terus goyang betar lagi tante keluar, ahh..ahhh…ouhh…aaaaacccchhh…,iyaa taantte..aaahhh..aahh, aahhh, ouu, huu.., makasi ya sayang aku pun tertidur diatas badan tante dan tante langsung memeluk ku, makasi ya nanda ini akan jadi anak kita.., kami segera berkmas dan meningalkan hotel, dan kejadian kami jalankan sampai hidup seperti biasa sampai sekarang.

aKu end istri Kakak Ku..


Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.

Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam, terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. "Maaf Mbak!" sahutku dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

"Ma.. maaf, ganggu ya," tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.
"Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak," sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.
"Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?" tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.
"Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak," sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.
"Kamu nonton apa?" tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
"I.. itu.. sama yang tadi," sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
"Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?" tanyaku dengan malu.
"Boleh, kenapa enggak?" jawab Dina.
"Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?" tawarku kepada Dina.
"Sekalian aja deh, biar rame," jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami terus berebutan air liur.

Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya. Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi. Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.

Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya. Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.

Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat rasanya."Dede.. oouuhh.." ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.

Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan maniku. "Mmmhh.." ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya. Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. "Udah De?" sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya. "Mbak yang ini belom," sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya."Emang kenapa?" tanyanya dengan isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di liang Dina yang lembut.

"Mmhh.." desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku. "Ooouuhh.. oouuhh.." berulang desahan itu Dina keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. "Dede.." ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. "Ooouuhh," desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. "Ooouuhh.." desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus. Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya. Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan maniku karena benar-benar nikmat.

Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua, tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat. Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.

TAMAT

ibu Ku end adik Ku..


Persetubuhan dan hubungan kami berjalan lancar selama dua tahun tanpa ada yang curiga atau mengetahuinya. Sampai suatu hari, bulan Oktober 2000 ibuku telah berumur 41 tahun tapi tubuh dan wajahnya masih tetap fit, dan seksi, walaupun ada sedikit keriput dan lipatan kecil di wajahnya, namun semua itu malah menjadikan ibuku makin sensual dan dewasa. Sedangkan aku berumur 20 tahun. Suatu hari aku dan ibuku mulai merasakan getara-getaran dan keinginan untuk bercinta lagi. Malam itu pembantu kami pulang ke kampungnya dan adik perempuanku belum pulang. Aku yang merasa bebas mulai merayu dan menggoda ibuku, dan ibu pun menanggapi rayuanku dengan sensualitas yang ibu punya. Kami kemudian telah berpelukan mesra dan berciuman dengan hotnya, sambil berciuman kami membuka pakaian kami dan tanpa sadar kami telah telanjang. Setelah melakukan oral seks yang ibuku sangat senangi, aku mulai menusuk lubang kemaluan ibuku dengan batang kejantananku yang menurut ibu makin nikmat.

Aku terus menggoyang pingulku naik turun dan ibu mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya, setelah beberapa saat ibuku mencapai orgasmenya yang kedua setelah pada oral seks tadi ibu telah orgasme. Saat itu posisiku sedang menindih tubuh ibuku yang kelelahan karena ibuku baru orgasme, aku terus menggoyang pinggulku mengocok batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan ibu, dan mungkin karena staminanya yang mulai berkurang ibuku hanya pasrah, aku mengocok terus dan membiarkan aku menusuk lubang kemaluannya dengan batang kemaluanku yang besar. Tanpa aku sadari ibuku melirik ke arah pintu kamar dan ternyata di situ telah berdiri asyik perempuan yang sedang memperhatikan kegiatan kami. Aku kaget tapi nafsuku masih mengalahkan rasa kagetku dengan kenikmatan lubang kemaluan ibuku yang masin basah. Ibuku menyuruhku memperlambat tusukanku dan dengan masih pada posisiku menindih tubuhku ibu bilang, "Sayang.. tuh ada Vika kalau dia mau kamu terusin aja sama Vika, Mami mau istirahat dulu," aku masih menggoyang pinggulku namun sekarang dengan perlahan. Ibuku bilang, "Vika sayang, sini kita gabung aja sekalian.." ajak ibuku pada adikku. Aku pun seperti mendapat angin bilang pada asyikku, "Vik.. kalo enggak mau aku habiskan sama Mami aja.." sambil mengerang kenikmatan. Seperti dihipnotis adiku Vika yang baru masuk kuliah berjalan menuju ke arah kami berdua, dan ibu menyuruhku agar aku mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Saat aku cabut batang kemaluanku berdenyut karena sedang enak-enaknya dijepit, harus dicabut. Ibuku kemudian menuju Vika yang sudah berada di samping tempat tidur, kemudian menciumnya dan meremas payudara adikku itu, dan sepertinya Vika setuju dan kemudian dia naik ke ranjang dan aku pun mencium bibir Vika. Hangat dan penuh sensasi saat kucium bibir adikku.

Aku mencoba meremas payudaranya yang agak kecil dibanding ibuku tapi terasa payudara Vika lebih kencang dan padat. Aku meminta dia membuka kaos ketatnya, memang Vika adalah gadis masa kini, wajahnya cantik dengan kulit yang halus dan mulus, juga putih dan bersih. Rambutnya hitam sepunggung dan tubuhnya yang tinggi semampai, lebih tinggi dari ibuku dan pinggul yang tidak terlalu besar, tapi mempunyai payudara yang serasi dengan tubuhnya yang seksi. Ukuran bra-nya mungkin 34B karena terlihat saat dia melepaskan kaosnya dan terlihat dadanya yang busung ke depan dan terlihat sangat indah. Vika tersenyum saat melihat batang kemaluanku yang besar dan berdenyut, aku mengira Vika sudah tidak perawan lagi, karena saat dia mulai menghisap batang kemaluanku dia terlihat tidak kaku dan sangat profesional. Bibir dan mulutnya yang kecil seakan tidak muat untuk melahap batang kemaluanku yang besar, hisapannya kuat dan nikmat walau tidak sekuat dan senikmat hisapan ibuku, Vika terus mengocok dan menghisap batang kemaluanku sementara aku mendesah dan meringis keenakan menikmati sedotan adikku, dan sambil kubelai rambutnya.

Setelah Vika puas, aku kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah ibuku yang hanya memperhatikan kedua anaknya berhubungan seks. Aku membuka bra Vika, dan keluarlah gunung kembar Vika yang putih dan kencang dengan puting yang masih merah segar. Kuremas gemas payudara Vika sambil kuhisap putingnya, adikku hanya melenguh dan mendesah pelan saat kuhisap dan gigit kecil puting susunnya. Aku jadi bingung, dia mau tidak kalau aku setubuhi. Aku yang tadi hampir orgasme di lubang kemaluan ibuku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke lubang kemaluan Vika. Dengan agak kasar kubuka celana panjangnya dan CD-nya sekaligus, Vika menjerit kecil dan ibu mengingatkanku agar tidak kasar pada adikku. Aku melihat pemandangan yang sangat indah tidak kalah indahnya saat aku pertama kali melihat pemandangan indah selangkangan milik ibuku dulu. Lubang kemaluan adikku dipenuhi bulu-bulu halus yang lebat tapi tertata rapi. Aku sudah tidak tahan lagi, kuhisap dan kujilat lubang kemaluan milik adikku itu, Vika mengejang dan bergetar saat kujilat klitorisnya, dia mulai mendesah kenikmatan, dan ternayata Vika lebih cepat orgasme dibanding ibuku. Terlihat saat kujilat dan kuhisap lubang kemaluannya, lubang kemaluannya mengeluarkan cairan kental hangat yang langsung kuhisap habis.

Setelah kuhisap semua cairan lubang kemaluan adikku, aku bangun dan kemudian berlutut tepat di selangkangan Vika, aku mengangkat pinggul Vika sedikit dan dengan agak berjongkok dengan tumpuan di lututku pantat Vika, kusimpan di dadaku hingga lubang kemaluan Vika tepat berada di depan batang kemaluanku yang terus berdenyut. Dengan sedikit seret dan dorongan yang agak keras, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan adikku yang masih terasa seret dan menggigit, kenikmatan otot lubang kemaluan dan seretnya liang senggama Vika memang lebih nikmat dari lubang kemaluan ibuku, namun aku merasakan sensasi yang lebih dasyat saat aku menyetubuhi ibuku. Ternyata Vika yang saat aku "garap" tubuhnya hanya diam dan mendesah kecil, saat batang kemaluanku penuh mengisi lubang kemaluannya, Vika mulai menggila. Desahannya malah semakin keras dan sensual. Tubuhnya bergoyang seperti penari ular, dan goyangan pinggulnya bergoyang sangat dasyat. Aku yang tadi akan menguasai "permainan" hampir kalah dan dikuasai oleh Vika.

Beberapa saat Vika menguasai permainan kami. Dengan posisi yang sama saat kutusuk batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Vika, Vika langsung menguasai permainan, pahanya dijepitkan ke pinggangku, pinggulnya berputar membuat batang kemaluanku yang ada dalam lubang kemaluan Vika seperti dipilin-pilin nikmat. Akh.. gila juga adikku ini. Aku terus memompa pinggulku meladeni putaran pinggul Vika, dan tangannku mulai beroperasi, payudara Vika yang terus bergoyang kuremas dan kumainkan puting susu Vika dengan jariku. Vika mendesah dan terus menjerit kecil saat permainan mulai kukuasai kembali, sambil kukocok batang kemaluanku di lubang kemaluan Vika, tanganku meremas dan memainkan putin Vika. Sementara kuhisap dan ciumi biibir Vika yang sensual, tipis dan merah menantang. Sesekali kuhisap putingnya yang membuat dia merem-melek, dan posisi itu berubah dengan Vika menungging dan aku menusuk dari belakang. Dengan posisi ini aku lebih leluasa meremas payudara Vika yang menggantung, pinggulnya kembali berputar dan maju-mundur mengimbangi kocokan batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang makin basah dan nikmat. Kemudian gerakan Vika makin cepat, erangan dan desahan Vika makin kuat dan keras. Vika meraih tanganku dan meletakannya di payudaranya agar aku meremasnya dan dengan goyangan pinggul yang dasyat tubuh Vika mengejang dan bergetar, dan dia memekik tertahan dan kurasakan cairan hangat membanjiri lubang kemaluan Vika dan membasahi batang kemaluanku tanda Vika sedang orgasme, dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi liar tergeletak lunglai. Aku melihat mata Vika terpejam saat kucium lehernya, sedangkan goyanganku pun aku perlambat agar Vika merasakan semua kenikmatan yang dia baru rasakan. Kubelai pinggangnya dan pinggulnya, dan dengan sekali gerakan kuputar tubuh Vika sehingga posisi kami kembali berhadapan tanpa aku mencabut batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan Vika. Aku merasakan jepitan yang sangat nikmat saat kuputar tubuh adikku tadi.

Kini kaki Vika kusandarkan di bahuku hingga dia benar-benar mengangkang dan dengan leluasa kuhabiskan sisa-sisa tenagaku untuk menghabisinya di dalam lubang kemaluan adikku, dan tidak lama dalam batang kemaluanku ada desakan dari dalam dan.. "Cret.. cret.. creet.." air maniku tumpah di dalam lubang kemaluan Vika, saat itu aku mendesah dan mengerang keenakan. Lalu kurebahkan tubuhku di atas tubuh Vika dan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu kucium lembut dan mesra bibir Vika dan Vika pun membalas ciumanku dan kami berciuman dengan mesra. Keringat kami membasahi tempat tidur dan kemudian ada suara, "Aduh ini anak Mami, keasyikan main sampai Mami dilupain gini.." sahut mami menggoda kami berdua yang memang dari tadi lupa kalau di sebelah kami berdua ada mami yang masih telanjang dan menonton aksi kami kakak-adik bertempur. Aku langsung mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluan Vika yang basah kuyub, dan kemudian ibu mengulum batang kemaluanku membersihkan cairan maniku dan cairan lubang kemaluan Vika. Aku dan Vika tersenyum pada mami, dan kami kemudian berbaring di satu ranjang, dengan aku di tengah mereka. "Vik.. ternyata kamu kuda liar juga, padahal waktu gue garap body lo, lo diem aja.." godaku pada adikku, Vika hanya tersenyum dan bilang, "Mam.. makasih udah ngajak Vika gabung, kalo enggak rugi Vika enggak tau kalau Kak Bobi dasyat banget.." Kami bertiga pun tertawa, lalu ibuku bilang, "Bob, kalau Mami capek atau kalau ada Papi, kamu tidur sama Vika saja, asal jangan ribut banget saja kayak tadi.." Aku cuma senyum kecil sambil kucium adikku. "Dan kalo enggak ada Papi kita tidur bertiga aja.." ajak Vika. Aku sangat setuju dengan ajakan Vika.

Kami bertiga tidur seranjang hingga pagi, dan pagi hari kami main lagi bertiga di dapur, dan mulai saat itu kami terus melakukannya sampai sekarang, dimana kami mau dan kapan kami mau kami pasti melakukannya, dengan motto kapan saja, dimana saja kami bermain. Sekitar dua bulan setelah aku main pertama kali dengan Vika, dan saat kami bersetubuh, Vika bilang kalau dia lagi hamil dua bulan, dan dia bilang dia hamil sama aku, soalnya dulu waktu pertama kali berhubungan dia itu lupa bilang kalau dia biasa main sama cowoknya, cowoknya harus pakai kondom, sedangkan dulu aku "muncratin" maniku di dalam lubang kemaluan Vika. Jadi, pertama aku hamili ibuku yang digugurkan, sekarang aku hamili adikku dan dia bilang mau digugurkan dan aku setuju sekali, soalnya aku tidak mau punya anak dari adikku dan Vika tidak mau punya anak dari aku, kakaknya. Gila!

TAMAT